Setiap manusia memiliki kecerdasan yang berbeda antara satu dan yang lainnya. Kecerdasan manusia itu sendiri terbagi menjadi 3 jenis yaitu IQ, EQ, dan SQ. Adapun penjelasan mengenai ketiga jenis kecerdasan tadi sudah dibahas pada artikel Kecerdasan Manusia sebelumnya.

Ada beberapa fakta menarik mengenai tiga jenis kecerdasan manusia ini. Salah satunya yaitu sebuah survei di AS pada 1918 mengenai IQ menemukan “paradoks” yang membahayakan: bagaimana skor IQ anak-anak makin tinggi, namun kecerdasan emosi mereka justru turun. Dan data hasil surveu pada 1970 dan 1980 terhadap orang tua dan guru menunjukkan bahwa anak-anak generasi sekarang lebih sering mengalami masalah emosi dibanding generasi terdahulu. Mereka tumbuh dalam kesepian dan depresi, mudah marah, sulit diatur, cenderung cemas dan agresif.

Survei tersebut berlanjut dengan penelitian terhadap ratusan ribu pekerja dari level bawah hingga puncak. Dari survei ini ditemukan suatu inti kemampuan pribadi utama keberhasilan pekerjaan dan hidup yaitu kecerdasan emosi.

Robert Stenberg juga mengemukakan bahwa “Salah satu sikap paling membahayakan yang telah dilestarikan oleh budaya kerja modern saat ini adalah bahwa kita tidak boleh, dalam situasi apa pun, mempercayai suara hati kita. Kita dibesarkan untuk meragukan diri sendiri, untuk tidak memedulikan intuisi serta mecari peneguhan dari luar diri kita bagi berbagai hal yang kita perbuat. Kita dikondisikan untuk mengandaikan bahwa orang lain lebih tau daripada kita dan dapat memberitahu kebenaran sejari dengan lebih jelas dibanding yang dapat kita ketahui sendiri.

Asah Empati Pertajam Jiwa Sosial

Memahami kondisi orang lain akan mempertajam kecerdasan sosial sesorang. Bagaimaan sikap empati ini ditanamkan kepada anak-anak secara dini? Empati merupakan sikap atau perilaku memahami suatu permasalahan dari sudur pandang atau perasaan lawan bicara.

Egois, cuek, dan tidak peduli merupakan representasi dari ketiadaan empati. Hal ini sering kali menjadi penyulut konflik. Mengapa ada orangtua memilih tempat perayaan ulang tahun anaknya di panti asuhan? Mengapa anak sesekali perlu diajak melongok anak-anak jalanan seusianya yang tinggal di kolong jembatan? Tentu agar dia melihat potret kehidupan orang lain, serta belajar untuk peduli dan memahami bahwa banyak anak-anak yang tidak seberuntung dirinya.

Pada akhirnya kegiatan tersebut dapat memunculkan sikap dan perasaan empati. “Pola asuh empati (parental emphaty) berperan penting dalam perkembangan kesehatan psikologis. Kurangnya empati dapat meningkatkan risiko gangguan kepribadian, sikap depresi, dan menyakiti diri sendiri”, ujar Stephen Montana PhD, Direktur Pelayanan Klinis di Saint Luke Institute New Hempshire USA.

Pada dasarnya setiap manusia dibekali sifat welas asih untuk saling membantu dan menyayangi antar sesama manusia, sesama makhluk hidup dan ingkungannya.

Anak yang nakal dan pemberontak skalipun dapat tersentuh hatinya bila melihat langsung penderitaan kaum papa maupun korban bencana. Ketika jiwa empati muncul, hati pun tergerak untuk membantu.

Empati erat kaitannya dengan kepekaan atau kecerdasan sosial. Keduanya perlu ditanamkan sejak kecil. Perlu diingat juga bahwa empati meibatkan afeksi dan emosi.

Padahal, kemampuan anak mengelola emosi dengan baik juga berkaitan dengan kecerdasan emosional alias emotional quotient (EQ). EQ merupakan salah satu aspek kecerdasan yang konon lebih penting dibandingkan IQ (Intellegence Quotient).

Tips Asah EQ

  1. Baik IQ maupun EQ menjadi bagian dari kecerdasan interpersonal yang harus diasah dalam keseharian si anak, dan diumlai dari rumah.
  2. komunikasi efektif antara orangtua-anak beitu kerap didengungkan. Tentu bukan tanpa alasan karena cara orangtua membangun komunikasi dan hubungan dengan anak akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan sosial emosional si anak dan terbawa hingga dia dewasa kelak. Untuk itu, orangtua harus menciptakan kedekatan dengan buah hatinya dari segala aspek.
    Misalkan melalui kebiasaan curhat yang akan membangun dan meningkatkan kualitas interpersonal dengan lingkungan sosial yang lebih luas. Bersahabat dengan anak adalah memungkinkan jika orangtua mau dan mampu mengembangkan empati terhadap sasana hari anak dalam skala yang terkecil sekalipun.
  3. Komunikasi yang efektif dapat mendorong terciptanya keterbukaan. Anak akan bersikap terbuka bila ada rasa aman dan nyaman yang terbangun dari kedekatan dengan orangtua dan rasa percaya diri anak.
    Padahal, kepercayaan diri akan terpupuk jika anak diberi kebebasan yang sesuai haknya. Antara lain bebas mengemukakan pendapat, mengekspresikan diri, berasosiasi dan bermusyawarah, hak memiliki privasi dan hak diberi informasi.
  4. Kebebasan adalah dasar dari sifat mandiri secara emosional, dan ini perlu dipelajari secara aktif-partisipatif.
  5. Partisipasi merupakan sebuah ekspresi dari kemampuan anak untuk berpikir dengan caranya sendiri, membagi ide, dan membuat keputusan sendiri.

Demikianlah tips dan masukan agar dapat mengoptimalkan kecerdasan yang dimiliki manusia baik IQ, EQ, dan SQ.

 

Salam hangat,

 

Insan-Q

Tags: , , ,