Kecerdasan merupakan suatu nikmat yang diberikan Tuhan kepada manusia sebagai pembeda dengan makhluk lainnya. Kecerdasan dasarnya dibagi dalam tiga jenis yaitu IQ, EQ, dan SQ. Ketiga jenis kecerdasan tersebut sering sekali kita dengar, namun apa itu IQ, EQ, dan SQ?

IQ (Intelligence Quotient) adalah kecerdasan yang diperoleh melalui kreatifitas akal yang berpusat di otak. Kemampuan dari kecerdasan ini biasanya dilakukan oleh otak kiri manusia.

EQ (Emotional Quotient) adalah kecerdasan yang diperoleh melalui kreatifitas emosional yang berpusat di dalam jiwa. Contoh dari kecerdasan ini yaitu kecerdasan sosial, mengelola emosi, motivasi diri, ide atau gagasan unik, dan kreatifitas yang tinggi.

SQ (Spiritual Quotient) adalah kecerdasan yang diperoleh melalui kreatifitas rohani yang mengambil lokus di sekitar wilayah roh. Kecerdasan ini membuat manusia menjadi lebih bijaksana, berwibawa, tenang, dan memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan.

Banyak orang berkesimpulan bahwa semakin tinggi IQ seseorang, maka akan semakin pandai orang tersebut dan memiliki masa depan yang cerah. Pendapat ini tidak selalu benar karena pemilik IQ tinggi bukan jaminan untuk meraih kesuksesan. Seringkali ditemukan pemilik IQ tinggi tetapi gagal meraih sukses; sementara pemilik IQ pas-pasan meraih sukses luar biasa karena didukung oleh EQ. Mekanisme EQ tersebut tidak berdiri sendiri di dalam memberikan kontribusinya ke dalam diri manusia. Intensitas dan efektifitas EQ sangat dipengaruhi oleh unsur kecerdasan ketiga yaitu kecerdasan SQ.

Untuk mengenali lebih dalam lagi mengenai tiga jenis kecerdasan manusia ini, yuk kita bahas satu persatu!

IQ  (Kecerdasan Intelektual)

Inti dari kecerdasan intelektual adalah aktifitas otak. Otak adalah organ luar biasa di dalam diri manusia. Beratnya hanya sekitar 1,5 Kg atau kurang lebih 5% dari total berat badan kita. Namun demikian, benda kecil ini mengkonsumsi lebih besar 30% dari seluruh cadangan kalori yang tersimpan di dalam tubuh. Otak memiliki 10-15 triliun sel saraf dan masing-masing sel saraf memiliki ribuan sambungan. Otak satu-satunya organ yang terus berkembang sepanjang otak itu terus diaktifkan. Kapasitas memori otak manusia yang sebanyak itu hanya digunakan sekitar 4-5% untuk orang biasa/kebanyakan, dan 5-6% untuk orang jenius. Sampai sekarang para ilmuan belum memahami penggunaan sisa memori otak yang sebesar 94%.

Otak dapat dibagi menjadi otak kiri dan otak kanan. Otak kiri memiliki fungsi analisis dan otak kanan memiliki fungsi kreatif. Meskipun masih banyak dtentang, kalangan ilmuan mengidentifikasi otak kiri sebagai otak feminin dan otak kanan sebagai otak maskulin. Walaupun terpisah tetapi keduanya saling berhubungan secara fungsional. Kelainan akan terjadi manakala hubungan fungsional itu terganggu.

Di dalam sistem otak manusia ada suatu bagian yang disebut limbik (otak kecil), terletak di bawah tulang tengkorak di atau tulang belakang. Otak kecil ini ditemuka oleh para ilmuan memiliki tiga fungsi, yaitu mengontrol emosi, mengontrol seksualitas, dan mengontrol pusat-pusat kenikmatan.

Dari sini dipahami bahwa otak dan emosi memiliki hubungan yang fungsional yang saling menentukan atara satu dan lainnya. Penelitian Rappaport di tahun 1970-an menyimpulkan bahwa emosi tidak hanya diperlukan dalam penciptaan ingatan, tetapu emosi adalaha dasar dari pengaturan memori. Orang tidak akan pernah mencapai kesuksesan dalam bidang apapun kecuali mereka senang menggeluti bidang itu. Jadi untuk mengoptimalkan kecerdasan intelektual yang biasa disebut dengan accelerated learning, tidak dapat dicapai tanpa bantuan aktifitas emosional yang positif.

EQ  (Kecerdasan Emosional)

Kecerdasan emosional dapat diartika dengan kemampuan untuk “menjinakkan” emosi dan megarahkannya pada hal-hal yang lebih positif. Seseorang dapat melakukan sesuatu dengan didorogn oleh emosi, dalam arti bagaimana yang bersangkutan dapat menjadi begitu rasional di suatu saat dan menajdi begitu tidak rasional pada saat yang lain. Dengan demikian, emosi mempunyai nalar dan logikanya sendiri. Tidak setiap orang dapat memberikan respon yang sama terhadap kecenderungan emosinya. Seorang yang mampu mensinergikan potensi intelektual dan potensi emosionalnya berpeluang menjadi manusia-manusia utama dilihat dari berbagai segi.

Adapun jenis dan sifat emosi dapat dikelompokkan menjadi beberapa bagian, yaitu:

  1. Amarah : bringas, mengamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal hati, terganggu, berang, tersinggung, bermusuhan, sampai kepada kebencian bersifat patologis.
  2. Kesedihan : pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihani diri, ksepian, ditolak, putus asa, dan depresi berat.
  3. Rasa takut : cemas, takut, gugup, khawatir, waswas, perasaan takut sekali, khawatir, waspada, tidak tenang, ngeri, kecut, phobia, dan paink.
  4. Kenikmatan : bahagia, gembira, ringan, puas, riang, senang, terhibur, bangga, kenikmatan indrawi, takjub, rasa terpesona, rasa puas, rasa terpenuhi, kegirangan luar biasa, dan batas ujungnya mania.
  5. Cita : penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, kasmaran dan kasih.
  6. Terkejut : terkesima, takjub, dan terpana.
  7. Jengkel : hina, jijik, muak, mual dan benci.
  8. Malu : rasa salah, malu hati, kesal hari, sesal, aib, dan hati hancur lebur.

SQ  (Kecerdasan Spiritual)

Kecerdasan sipritual menjadi salah satu wacana yang mulai mencuak akhir-akhir ini. Wacana ini muncul seolah-olah kelanjutan dari wacana yang pernah dipopulerkan oleh Daniel Goleman dengan Emotional Interlligence-nya. Kini sudah mulai bermunculan karya-karya baru tentang kecerdasan ketiga ini dengan metode pembahasan yang berbeda-beda. Yang lebih menarik lagi karena buku-buku ini muncul di dunia Barat. Apakah ini pertanda bahwa Barat kini sudah mulai melakukan reorientasi pandangan hidup atau karena sedang terjadi suatu krisis di Barat?

Kecerdasan spiritual dalam Islam sesungguhnya bukan pembahasan yang baru. Bahkan masalah ini sudah lama diwacanakan oleh para sufi. Kecerdasan spiritual (SQ) berkaitan langsung dengan unsur ketiga manusia, yang disebut dengan roh. Keberadaan roh dalam diri manusia merupakan intervensi langsung Allah SWT tanpa melibatkan pihak-pihak lain, sebagaimana halnya proses penciptaan lainnya.

Dari ketiga jenis kecerdasan yang sudah dibahas, tentunya kita sebagai manusia ingin memaksimalkan ketiga jenis kecerdasan yang sudah kita miliki untuk dapat menjadi manusia yang lebih baik lagi. Bagaimana mengoptimalkan ketiga jenis kecerdasan yang sudah kita miliki? Apa saja tipsnya? Yuk, lanjut baca artikel Cara Mengoptimalkan IQ, EQ, dan SQ.

 

Salam,

 

Insan-Q

Tags: , , ,